Temukan Kuncinya, Lalu Buka Peti Harta Karunnya (OOT)

Pernahkah Anda menyaksikan seseorang yang dapat melakukan sesuatu dengan sangat mudah, padahal Anda sendiri tidak bisa melakukannya? Saya sering begitu. Misalnya, saya tidak bisa bermain selancar air dipantai, tapi mengapa banyak orang yang bisa melakukannya. Ini hanyalah contoh kecil saja yang membuktikan bahwa ternyata; ada orang-orang yang bisa melakukan sesuatu yang kita anggap sulit. Namun demikian, kita tidak perlu berkecil hati, karena boleh jadi, kita bisa melakukan sesuatu yang menurut orang lain sangat sulit untuk dilakukan. Sehingga, ini semakin menegaskan kenyataan bahwa kita para manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Tetapi, bukankah kadang-kadang kita harus melakukan sesuatu yang sangat sulit itu untuk memenuhi keinginan kita? Buktinya, ada banyak keinginan dan angan-angan yang tidak bisa kita wujudkan. Sehingga kita sering menjadi frustrasi dibuatnya. Lantas, bagaimana kita bisa berkompromi dengannya?

Beberapa waktu lalu, saya menjadi sangat pusing karena kehilangan kunci lemari tempat saya menyimpan peralatan dan dokumen untuk mendukung aktivitas harian. Anak saya yang masih sangat kecil memain-mainkan kunci lemari itu sebelumnya, sehingga saya yakin dia menyimpannya disuatu tempat. Sayangnya, sekuat apapun saya berusaha untuk membuatnya ingat atau memberitahu keberadaan kunci-kunci itu; saya tetap gagal total. Padahal tanpa kunci itu, ’saya tidak bisa membuka’ lemari itu. Sehingga saya tidak dapat memperoleh apapun yang tersimpan didalamnya.

Bayangkan seandainya lemari itu seperti peti harta karun. Tanpa kunci itu, dia tidak bisa dibuka. Bayangkan lemari terkunci itu seperti tempat asing yang berisi angan-angan yang kita inginkan. Tanpa kunci itu, kita tidak dapat meraih isinya. Lalu, kita mengatakan; ”betapa sulitnya mewujudkan keinginan ini…..” Mungkin kita berpikir untuk membongkar paksa pintu lemari itu dengan menggunakan gergaji atau kampak. Jika isi lemari itu sedemikian pentingnya, mengapa mesti pusing dengan lemarinya? Hancurkan saja. Masalahnya, kita tidak tahu bagaimana menghancurkan ’lemari kehidupan’ yang menyimpan semua impian kita. Karena, tidak ada cara lain untuk meraih isinya kecuali dengan kunci untuk membuka pintunya.

Dilaci meja kerja saya ada seuntai kunci. Saya tahu bahwa kunci lemari yang menghilang itu tidak termasuk salah satunya. Namun, rasa putus asa mendorong saya untuk mencoba semua kunci itu. Dan tentu saja gagal. Persis seperti hidup kita. Untuk meraih apa yang kita inginkan itu ada kuncinya. Dan kunci itu sangat spesifik sehingga kita tidak bisa menggunakan sembarang kunci untuk membukanya. Mungkin, itulah penyebabnya mengapa segala usaha dan daya upaya yang kita lakukan selama ini tidak kunjung memberikan hasil yang diharapkan. Mungkin karena kita belum melakukannya dengan ’kunci’ yang tepat. Sehingga, sekeras apapun usaha yang kita lakukan, kita masih gagal maning, dan kemudian gagal maning.

Siang sudah berganti malam. Dan anak saya belum juga membocorkan rahasia tentang kunci itu. Sementara saya sudah semakin putus asa karena kunci itu tidak ada di kotak mainannya, tidak pula di celengan, ataupun tempat paling tersembunyi di rumah pondokan kami. Lalu, saya menyerah dihadapan anak kecil yang sekarang sudah tertidur pulas tanpa beban itu. Karenanya, saya memutuskan untuk rehat barang sesaat. Sebab, tidak mungkin membangunkan anak kecil hanya untuk memaksanya mengingat ’dimana dia menyimpan kunci lemari ayahnya’. Mungkin, ini saat yang tepat bagi saya untuk beristirahat setelah menjalani hari yang penat, agar besok bisa meneruskan pencarian itu dengan penuh semangat. Duh, kehidupan kita juga sering begitu. Kita sedang membutuhkan kunci yang mampu memberi akses untuk masuk atau menemukan sebuah jalan keluar. Namun, kunci itu sering tersembunyi entah dimana. Mungkin, ini saat yang tepat bagi kita untuk jeda sesaat, tanpa kehilangan hasrat
untuk meneruskan perjuangan ini esok hari.

Esoknya pagi-pagi sekali, saya menanti si kecil untuk bangun dengan penuh harap. Dan begitu dia menggeliat; saya memeluknya sambil bertanya;’kunci lemari ayah pergi kemana ya?’ Lalu, dia menjawab;”Sudah basah…..”

”Sudah basah?” saya benar-benar menjadi orang pilon. ”Kamu ngompol ya?” ternyata celananya tidak basah. ”Apanya yang sudah basah?” Saya bertanya dalam harapan dan kebodohan.

”Kuncinya sudah basah,” katanya.
Hah?! Kuncinya sudah basah? Apa maksudnya? Apakah kunci lemari saya dicemplungkan kedalam sumur? Atau masuk kedalam mangkuk sayur ibunya? Atau….. ah, lebih baik ditanya saja. ”Basah kenapa?”

”Sudah kecebur kolam….” Glek, kunci lemari saya kecebur kolam…. Tapi kolam yang mana? Akhirnya dengan putus asa saya memintanya menunjukkan tempat ’keceburnya’ kunci lemari itu. Lalu dia menuntun tangan saya, menuju kehalaman depan. Kemudian, dia menunjuk vas bunga berisi tanaman air kami. ”Dikolam itu,” katanya. Dan saya benar-benar menemukannya disana. Dengan kunci itu, saya bisa membuka lemari dengan teramat mudah. Lalu, saya mendapatkan semua benda yang saya butuhkan.

Jangan-jangan, hidup kita juga seperti itu ya. Setelah semua usaha yang kita lakukan selalu membawa kegagalan; mungkin yang kita perlukan adalah ’menemukan kuncinya’. Sehingga dengan kunci itu kita bisa membuka ruang rahasia dimana keberhasilan kita tersimpan. Sedangkan anak kecil itu bagaikan malaikat yang ditugaskan Tuhan untuk menyimpan kunci-kunci kehidupan yang kita butuhkan. Malaikat itu tidak memberi kita kunci sampai kita telah benar-benar mengerahkan segala kemampuan dan daya upaya yang kita miliki. Dan ketika kita sudah mengerahkan seluruh kemampuan itu hingga titik paling akhir, barulah dia memberi tahu kita kuncinya. Dan kunci itu, sering berupa ’pengetahuan’ mengenai bagaimana membuka ruang tertutup dinding yang membatasi kita dengan keberhasilan.

Adalah tugas malaikat untuk menjaga kunci-kunci itu. Dan adalah tugas kita untuk menunjukkan kesungguhan dan dedikasi agar dipercaya untuk mendapatkannya. Sehingga, ketika Sang Pembuat Keputusan mengetahui bahwa kita bersungguh-sungguh; Dia Yang Maha Sempurna kemudian bersabda kepada para malaikat;”Aku sudah melihat kesungguhannya. Maka bantulah dia, dan berikan kunci-kunci itu kepadanya.”
Semoga.

Catatan Kaki:
Mungkin yang sesungguhnya kita alami itu bukanlah kegagalan, melainkan bertambahnya pengetahuan; untuk menemukan kunci keberhasilan, atas apa yang kita cita-citakan.

Salam,
IrvaniA

~ oleh apbssolid pada Juni 16, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: